Wednesday, 4 October 2017

Puisi tentang ayah

    Puisi ini ditulis pertama kali pada bulan januari 2016 di Panyabungan, Indonesia. Dimulai dari tugas bahasa Inadonesia membuat puisi dan terciptalah puisi tentang ayah. Kebetulan karena penulis sedang merindukan sang ayah. Kenapa ayah? Karana rindu untuk sang ibu tak dapat di tuliskan dalam sebuah bait kata kata. Semoga dapat di resapi maknanya😊.




☆UNTUK AYAH☆



Hapus air mata
Ukir sebuah senyuman
Janganlah terus bersedih
Kebahagiaan ada dipuncaknya


Aku pergi bukan untuk selamanya
Meski telah tumbuh dari yang selalu
Kau pangku kau genggam tanganku
Ku tetap putri kecil mu


Ayah...
Mutiara nan indah dan rapuh ini
Dijaga oleh kerang yang kuat dan keras
Bunga yang dulunya hampir mati ditinggal sang kekasih
Menjadi penghuni dunia yang tak terlihat
Kini berdiri paling depan layaknya sang jendral perang


Ayah...
Benar memang
Dunia bukan seperti drama sekolah yang dilakoni
Janganlah pernah takut dan gelisah
Permata berkilaumu jadi pemeran utama di dunianya


Ayah...
Amarahmu layaknya api
Ketenangan disegala situasi layaknya air
Tanggung jawab kebijaksanaan mu layaknya angin


Sosok laki laki yang tak pernah menyakitiku
Menjadi tameng, dinding, dan atapku selalu
Sosok panutan mencari pelindungku yang keempat


Terima kasih ayah...
Aku selalu menyayangimu
Tak ada kata lain di catatan yang perlu kau ingat
Hanya...
Aku akan tetap menjadi putri kecilmu
Semoga tuhan selalu menjagamu.


Panyabungan,
Februari 2016


No comments:

Post a Comment